Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung ke kediaman sahabat yang biasa aku memanggilnya “Mas Ngali”. Mungkin kita tidak asing mendengar nama itu. Mas Ali bepesan kepada adiknya yang benama “Dek Ovide” sebutan akrabnya ke aku. Besok sore jam 3-an tolong dijemput Mas Harum di bandara ya, soalnya aku mau ke solo, pinta dia. Yah boleh, kataku. Semalam berlalu hari itupun tiba, kebetulan hari itu ada Mas Dani yang sedang berkunjung ke Kamarku.
Yah daripada nganggur gitu kuajaklah ikut menjemput Mas Harum. Dengan laju kecepatan yang relatif sulit untuk dikatakan lambat (alias kenceng), motor bututkupun bergegas meluncur ke bandara diiringi kendaraan era kekinian tunggangan Mas Dani. Sesampainya di Bandara kita menunggu lebih-kurang 1/2 jamanlah, relatif (lama-tidaknya tergantung kondisi). BT banget cuman disuguhin tontonan kerumunan orang yang bolak-balik ngantri coca-cola zero gratisan. Aku sih pengen, tapi malu mau meminta, eh memang dasar rejeki, Alhamdulillah mas-masnya ngerti juga kalo kita lagi haus-hausnya. Akhirnya untuk mengurangi kejemuan kita ambil posisi aman, bermigrasi ke tempat duduk ruang tunggu sampil nonton TV dikit. Pas kebetulan ada mas-mas temennya yang tadi itu lo, minta ijin untuk menjadi pria penghibur kita dengan keahlian sulapnya, yah kita sih asik-asik saja (lumayan mumpung ada hiburan gratis!). Oh iya sebelumnya sih sudah ada telepon dari mas Harum kalau beliau dah nyapai. Tapi tetep aja nunggu. Pas sulapnya sudah selesai, handphonepun berbunyi lagi, Iya mas, jawabku. Ternyata Sosok lelaki bertubuk besar dengan tinggi rata-rata melambaikan tangannya dari seberang sana. Dengan baju ala jogja yang melekat di tubuhnya, jelas tak asing lagi. Kamipun berpelukan dan meluapkan rasa kangen dan kawan-kawannya dengan ritual kebiasaan “Ulil Albab” dulu. Kamipun berjalan menuju parkiran motor, sesampainya di sana baru ingat kalau kita lupa membawa helm buat penumpang. Walah memang hari yang aneh! tapi ndak papa, setelah berdiskusi sejenak akhirnya keputusan tetap berjalan dengan semestinya. Akupun membawa tumpangan tak ber-helm, yah terpaksanya kita harus muter-muter menyusuri jogja guna menghindari pos polisi. Dengan melalui jalan yang panjang dan prosesi yang melelahkan, akhirnya kamipun sampai di kost mas Ngali. Dasar memang hari yang aneh, bukannya menikmati nikmatnya kasur yang empuk lagi-lagi kami harus menambah jam tayang dengan menunggu bapak pemilik kost yang lagi tidak berada di tempat. Kamipun menunggu beberapa saat di tempat duduk dekat lapangan sambil ditemani sedikit makanan ringan. Akhirnya penantian yang melelahkan ini berakhir, sosok lelaki agak tua menghapiri kita dan memberikan konci kamar. Alhamdulillah akhirnya kamipun dapat beristirahat sejenak di kamar mas Ngali…
bersambung….
~decroly
0 Responses to “Saudagar yang kembali ke perantauan”